Gontor From The Inside

Murid ya murid, Guru ya Guru

Oleh: Ustadz Hasanain Juaini
Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Pesantren Haramain, Lombok Barat

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum wr. Wb.
Jika menggunakan barometer konvensional, maka menjadi guru di Gontor itu seperti kehilangan alasan untuk senang apalagi bahagia. Namun jika dilihat faktanya, di Gontor itu anda tidak akan menemukan guru-guru menderita apalagi stress.
Suatu hari rombongan tamu dari Konsul Amerika di Surabaya datang dan menanyai saya, Apakah anda senang dan bahagia menjadi guru disini? Pertanyaan ini wajar karena mereka telah diberi tau oleh pemandu bahwa guru di Gontor tidak digaji. hanya ditanggung makan dan keperluan harian seperlunya seperti sabun, shampo dan odol. Sikat giginya dikasi dua kali dalam setahun.
Ada juga yang nanya dari mana sumber makannya guru-guru? Untuk pertanyaan ini sering sekali dijelaskan bahwa dahulu ada Gaji honor bagi beberapa orang guru Gontor dari Pemerintah selama beberapa tahun. Agar tidak menimbulkan kecembuaruan maka seluruh gaji honor itu dikumpulkan lalu dibelikan sawah, dan hasil sawah itulah yang dipakai untuk memperluas dirinya sendiri sehingga sekarang bisa memberi makan dan keperluan harian guru-guru. Namanya Sawah Wakaf Guru Gontor.
Untuk pertanyaan pertama tentang apa yang menyebabkan guru di Gontor itu senang dan bahagia? saya jawab dengan versi saya sendiri begini:
(1) Kata Kyai Zarkasi, hakekat mengajar itu adalah belajar, maka kita meyakini bahwa sesungguhnya kita sedang mendapatkan tambahan ilmu. Jika kemarin tingkatan ilmu kita masih dinamakan ilmu-anak, maka kali inilah yang dinamakan tingkat ilmu Bapak;
(2) System Gontor telah menjamin bahwa mereka yang kita ajari adalah para murid, penuntut, pencari yang memenuhi syarat untuk dikatakan murid. Artinya merekalah yang aktif, yang mau dan berusaha untuk bisa. Hal ini membuat guru benar-benar merasa jadi guru (digugu dan ditiru). sama dengan ketika kita memberi sesuatu kepada orang lalu yang bersangkutan tahu berterima kasih. Ada kebahagiaan di sana yang berlipat-lipat kali dari apa yang kita berikan;
Proses murid senang belajar yang diimbangi dengan guru senang mengajar akan melahirkan ghairah cinta ilmu, memuliakan ilmu dan akhirnya orang-orang seperti ini akan mulia karena ilmunya. itulah yang namanya ilmu ibu.
(3) Dari segi usia, alumni Gontor itu sesungguhnya belum layak menjadi guru karena ilmu pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh sampai pada usia sekitar 20 atau 21 belumlah memadat menjadi bagian laten dalam dirinya. istilah tarbiyahnya ilmunya belum sampai tarap menjadi sifah lazimah. Nah ditugaskan menjadi guru di Gontor menolong kita (pasnya saya) melalui proses ini dengan baik dan selamat.

Sepanjang menjadi guru, saya melihat satu fenomena yang unik di Gontor ini. Inilah penggalan kisahnya. Ada seorang Wali santri yang sangat ingin agar anaknya nyantri di Gontor, lalu beliau yang sudah menjadi mantan anggota DPRD di Sumatra (saya lupa alamat lenkapnya) mengantar sendiri putranya yang baru tamat SD itu.
Selama bulan Ramadlan orang tua ini ikut juga belajar baca Al-Qur’an dan Imlak (tulis arab). Lama kelamaan tumbuh kesadaran beliau sendiri bahwa ilmu-ilmu inilah yang selama ini belum dia miliki sehingga dalam tugasnya-tugasnya sebagai wakil rakyat tidak berjalan baik. Pendek cerita beliau ikut mendaftar menjadi santri dan kedua-duanya LULUS. Sayangnya si ayah abjaad kelasnya lebih rendah dari anaknya sendiri yang masih ingusan itu. Sampai disini cerita ini sudah sangat luar biasa. Tapi itulah Gontor: Murid ya murid, semua sama saja dan tidak akan dibedakan hanya karena salah satunya melahirkan yang lainnya.
Cerita ini merebak dan menghebohkan penduduk Gontor, lebih special lagi pada waktu pekan perkenalan, nyaris semua orang ingin tahu detik-detik demi detik bagaimana kedua bapak anak ini menjalani kehidupan sama-sama menjadi santri. Ada yang takbir, ada yang tasbih ada yang haru bahkan banyak juga yang senyum sampai ketawa melihat keduanya beriringan pergi makan ke dapur umum.
Paling mencolok adalah ketika makan malam bakda Isya’; yang satu keluar dari gedung Kibar dan yang satu keluar dari gedung sighor. Di tengah lapangan basket di depan BPPM itu mereka bertemu, lalu si anak menjalani tugas ke-anakannya sejenak (Assalamu’alaikum dan cium tangan) dan setelah itu mereka beriringan bagaikan teman-teman sejawat dan seangkatan. Dahsyaaaat.
Ada satu hari yang momentnya paling banyak ditunggu-tunggu yaitu ketika kelas si Bapak harus bertanding dengan kelas si anak dalam rangkaian Khutbatul Arsy. Ini bagian lomba yang wajib semua anggota kelas ikut tanpa kecuali yaitu Tarik Tambang.
Semua anggota dari kedua kelas tentu serius memenangkan kelas mereka, nah bagaimanakah gerangan hati kedua bapak beranak ini? Hanya mereka dan Allah yang tahu…saya sendiri tidak tega melanjutkan tontonan yang sudah lama saya tunggu2.
Kemudian saya dengar ceritanya bahwa kelas si Bapak mula-mula menang dan ternyata si anak terlihat senang sekali. lalu pada ronde kedua kelas si anak yang menang tapi ternyata si anak malah menangis. entah bagaimana ceritanya dan prosesnya akhirnya kelas si Bapak memenangkan pertandingan tarik tambang itu.
Mungkinkah di sini telah terjadi kesepakatan tak tertulis dan tak terencana dari kedua regu itu untuk memilih bagaimana agar tak seorangpun ada yang menangis?
Walsantor terhormat, jika demikian miliu di Gontor itu akankah seseorang bisa tidak betah, tidak senang dan tidak bahagia di dalamnya? Menjadi murid atau jadi guru?
Wassalam
Bandara Internasional Lombok, NTB
23 Maret 2012. Pukul 16:00
sambil menunggu pesawat ke jkt menghadiri Silatnas Cirebon

Tidak ada komentar: