Gontor From The Inside (9)

BELAJAR DI PONDOK PESANTREN GONTOR: PENGALAMAN WALI SANTRIWATI

Oleh: Imam Bachtiar
PENDAHULUAN
Ketika salah seorang anak kita memasuki Kelas 6 SD, sudah saatnya orangtua memikirkan sekolah lanjutan untuk anaknya. Tulisan singkat ini dimaksudkan untuk berbagi informasi dengan orangtua yang sedang mencari sekolah terbaik untuk putrinya. Pengalaman kami sekeluarga, kami kesulitan mendapatkan informasi yang agak lengkap di internet ketika memilih Gontor Putri sebagai tempat sekolah putri kami. Calon santri/wati Pondok Pesantren Gontor tersebar di seluruh Indonesia, dan negeri tetangga. Saya mendapatkan banyak kejutan ketika memutuskan menyekolahkan anak di Pondok Pesantren Gontor Putri. Semoga dengan tulisan ini para pembaca memiliki informasi awal yang cukup tentang Pondok Modern Gontor walaupun sangat singkat dan bersifat tidak formal, sehingga tidak banyak terkejut ketika sampai di kampus Gontor Putri.
Saya adalah seorang dosen di sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Mataram. Istri saya seorang guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sebuah SMP negeri di kota yang sama. Sebagai tambahan informasi, saya mempunyai sejumlah pengalaman luar negeri, misalnya saya mendapat gelar akademik dari universitas Australia, ditambah dengan kunjungan ke 10 negara untuk kegiatan akademis internasional atau kegiatan lainnya. Saya tampilkan pengalaman luar negeri ini karena hanya dengan pergi ke luar negeri kita dapat melihat bagaimana kondisi rumah besar kita (Indonesia) dari luar rumah. Kita sangat sulit untuk dapat menyaksikan bahwa rumah kita tidak berdiri tegak atau temboknya berlubang, jika kita hanya melihatnya dari dalam rumah.
Kami berdua dikaruniai dua orang putri, JCUB dan NTB. Sekarang JCUB sedang belajar di kelas 9 sebuah SMAN di Mataram, sedangkan NTB belajar di Gontor Putri 5. Awalnya JCUB juga belajar di Gontor Putri 1, tetapi karena suatu alasan kesehatan kami memindahkannya ke luar pondok dan belajar di sekolah umum (negeri).
Baik keluarga besar istri maupun saya tidak ada yang mempunyai anak belajar di pondok pesantren. Istri dan saya juga termasuk orang-orang yang dididik sejak kecil di sekolah umum. Keinginan kami menyekolahkan anak ke Gontor, tentu saja mendapatkan sejumlah kekecewaan dari orangtua kami dan saudara kami yang lainnya. Apalagi kedua putri kami mempunyai prestasi akademis yang sangat baik, sehingga dapat diterima di sekolah yang paling favorit di Kota Mataram.
MENGAPA MEMILIH GONTOR?
Kami tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa kami akan memilih pondok pesantren sebagai tempat sekolah anak kami. Kami berdua tidak pernah mengenal pendidikan pondok pesantren. Banyaknya kecurangan yang diajarkan guru kepada siswa dan dibiarkan oleh sekolah dan pemerintah membuat saya sangat kecewa dan sangat sedih. Di negeri yang mayoritas muslim, ketidak-jujuran ditumbuh-kembangkan oleh lembaga pendidikan. Di negara komunispun, misalnya Vietnam, yang diajarkan guru adalah moral yang baik: kejujuran, keadilan, dan keberadaban. Ironisnya hal semacam itu sudah tidak berlaku di dunia pendidikan Indonesia. Bahkan di tahun 2010, saya masih menyaksikan bahwa sisiwa yang tidak jujur dalam ujian nasional (nilai paling bagus secara mengejutkan) mendapat hadiah dari sekolah.
Hal seperti itu terjadi hampir di semua sekolah negeri. Anehnya kecurangan juga diajarkan di sekolah yang membawa nama Islam di Mataram. Anehnya lagi, kecurangan seperti itu tidak terjadi di sekolah yang memakai nama Kristiani di kota kami. Jika di Indonesia generasi muda Kristen lebih jujur daripada generasi muda Islam, saya yakin sudah saatnya saya pindah warga negara.
Ketidak-puasan terhadap sekolah negeri yang hanya mengajarkan materi pelajaran dan kecurangan, tidak mendidik akhlak siswanya, saya dan istri memutuskan untuk mendidik anak kami dengan cara yang berbeda dari mayoritas orangtua Indonesia. Saya terinspirasi pada sejarah bahwa ketika Belanda gencar mengkristenkan bangsa Indonesia, maka pertahanan terakhir umat Islam adalah pondok pesantren. Di jaman pendidikan Indonesia yang paling gelap saat ini, saya yakin pondok pesantren tetap menjadi benteng pertahanan terakhir.

Sayangnya, banyak pondok pesantren yang ‘memodernkan’ dirinya sehingga banyak pula yang mengikuti kurikulum nasional dan terseret ‘arus kecurangan nasional’ setiap tahun. Sedikit pondok pesantren yang tetap tegak berada dalam misi dan posisinya. Di antara sejumlah pondok pesantren yang punya nama besar dan harum, yang paling menonjol adalah Pondok Pesantren Modern Darussalam (PPMD) atau yang lebih banyak dikenal sebagai Pondok Pesantren Gontor.
Jika kita ingin membeli kendaraan yang kualitasnya terjamin, maka kita akan memilih kendaraan yang sudah teruji di negeri ini. Kendaraan yang sudah dikenal tangguh, tidak mudah rusak, tahan lama, kecepatan baik, dan sebagainya. Harga tentu saja merupakan komponen penting juga di dalam membeli kendaraan tersebut. Merek kendaraan seperti Toyota, Honda, Suzuki, dan merek terkenal lainnya dapat menjadi garansi bahwa kita tidak memilih kendaraan yang salah.
Menyekolahkan anak, bagi kami, juga harus memilih yang alumninya sudah teruji. Pondok Pesantren Gontor (PPMD) merupakan lembaga yang telah menghasilkan alumni unggulan, yang telah memberikan sumbangan besar terhadap bangsa ini. PPMD telah melahirkan tokoh-tokoh nasional seperti KH Idham Cholid (alm.), Prof. Nurcholish Madjid (alm.), Dr. Hidayat Nurwachid, KH Maftuh Basyuni, Prof. Din Syamsuddin, KH Hazim Muzadi, serta banyak tokoh nasional lainnya. Adakah lembaga pendidikan tingkat SMP-SMA yang telah melahirkan tokoh nasional sebanyak PPMD? Setahu saya belum ada bandingannya.
Di Indonesia sedang banyak dikembangkan sekolah-sekolah yang diberi label sekolah berstandar internasional. Tetapi jika kita melihatnya lebih dekat, sekolah-sekolah dengan label internasional tersebut hanyalah sekolah yang bertarif mahal (internasional), dan bukan sekolah yang berbahasa Inggris. Bangsa kita memang menyukai kulit daripada isinya. Ibaratnya kita ingin anak kita menjadi artis, maka yang kita lakukan adalah mendandani anak kita dengan pakaian artis, bukan melatih vocal atau acting anak tersebut. Sekolah berstandar internasional yang sedang dirintis pemerintah juga dievaluasi dengan ujian nasional. Lalu, apa bedanya dengan sekolah berstandar nasional atau berstandar lokal?
Jika anda ingin melihat sekolah berstandar internasional, maka PPMD merupakan contoh yang kongkrit. Di sini, setiap bulan, santri kelas 2 ke atas wajib menggunakan bahasa Inggris selama seminggu dan berbahasa Arab selama tiga minggu. Tidak ada satu haripun santri boleh menggunakan bahasa Indonesia di dalam pondok, dan semua santri tidak boleh keluar pondok selain dua liburan semester. Dengan demikian, semua santri ‘terpaksa’ dapat berbahasa internasional. PPMD juga merupakan satu-satunya lembaga pendidikan di Indonesia (setingkat SMP-SMA) yang mampu menarik siswa dari luar negeri, dengan kata lain bertaraf internasional dalam arti yang sebenarnya. Sejumlah santri PPMD datang dari negara tetangga (Malaysia, Thailand, Singapore, Brunai), Pakistan, Mesir, Palestina, dan berbagai negara lainya. Adakah SMP-SMA favorit di seluruh Indonesia yang siswanya datang dari luar negeri?
Itulah tiga alasan kami mendidik kedua putri kami di Pondok Pesantren Gontor Putri. Pertama, kami tidak rela anak kami diajari akhlak yang buruk (curang) di sekolahnya. Kedua, kami meyakini bahwa merek Gontor merupakan jaminan kualitas pendidikan, bukan hanya pengajaran seperti di sekolah negeri. Ketiga, PPMD merupakan kampus dan sekolah bertaraf internasional walaupun tanpa label sekolah internasional.
PENDAFTARAN SANTRIWATI DI GONTOR
Pendaftaran calon santri/wati di Pondok Pesantren Gontor dibuka sepanjang tahun. Pendaftaran calon santri putra dilakukan di Pondok Gontor 2 (Ponorogo), sedangkan calon santri putri disediakan di Pondok Gontor Putri 2 (Mantingan, Ngawi). Saya hanya mempunyai pengalaman dengan anak perempuan saya, sehingga hanya akan bercerita tentang Gontor Putri. Saya memperkirakan proses yang serupa juga dilaksanakan di Gontor Putra. Kampus Gontor Putri 2 dan Gontor 2 (Putra) memang didesain khusus untuk penerimaan calon santri/wati.
Pendaftaran calon santriwati hanya membutuhkan persyaratan akte kelahiran, fotocopy raport, dan beberapa lembar foto. Karena itu, kita dapat mendaftarkan putri kita menjadi calon santriwati Gontor Putri 2 begitu ujian nasional di sekolah dasar (SD) telah selesai, sebelum mendapatkan ijazah. Calon santriwati dapat lulusan SD/MI maupun lulusan SMP/MTs. Para calon santriwati ini wajib mengikuti ujian penempatan (placement test) pada saat pendaftaran. Ujian penempatan tersebut meliputi: membaca al-Quran, shalat, imla (mencongak Arab), berhitung, dan bahasa Indonesia.
Berdasarkan hasil ujian penempatan, calon santriwati akan dikelompokkan berdasarkan kemampuannya dalam kelas yang relatif homogen. Yang telah pandai menulis Arab, misalnya, dikelompokkan dalam kelas tersendiri. Demikian juga yang pandai berhitung mempunyai kelas tersendiri. Yang tidak pandai keduanya juga memiliki kelas tersendiri. Pengelompokkan ini untuk mempermudah para ustadzah dalam mempersiapkan para calon santriwati untuk mengikuti ujian masuk (seleksi). Informasi lebih lengkap dapat dilihat di situs resmi Pondok Pesantren Gontor.
Ketika mendaftar sebagai calon santriwati, kita wajib membekali putri kita dengan sejumlah perlengkapan sekolah, tidur, mandi, dan makan. Semua perlengkapan calon santriwati tersebut disediakan di toko koperasi Gontor Putri 2. Saya sebelumnya membayangkan bahwa di Pondok Modern seperti Gontor santri tidur di ranjang beringkat dengan spring bed. Ternyata para calon santri tidur di lantai beralaskan kasur tipis (standar Gontor) di sebuah ruangan ukuran 8×8 meter, yang dihuni oleh 25-30 calon santriwati. Semua buku yang dibutuhkan oleh calon santriwati hanya dapat dibeli di dalam Pondok Gontor Putri 2.
Lama calon santriwati belajar di Gontor Putri 2 tergantung kapan dia melakukan pendaftaran. Begitu calon santriwati didaftarkan, ia tidak boleh lagi keluar dari pondok. Calon santriwati hanya boleh pergi ke Balai Penerimaan Tamu jika ada walisantri atau kerabat yang menjenguknya. Semua calon santriwati akan belajar di dalam pondok hingga selesai pelaksanaan ujian masuk pertama.
Ujian masuk (seleksi) calon santriwati dilakukan dua kali, bulan Sya’ban (sebelum Ramadhan) dan Syawal (habis lebaran). Jadwal ujian masuk dapat dilihat di situs PPMD di atas. Calon santiwati yang tidak lulus pada ujian masuk pertama (Sya’ban) dan mengikuti lagi pada ujian masuk kedua (Syawal). Pada saat ujian masuk tersebut, ada caln santriwati yang baru seminggu di Gontor Putri 2 ada juga yang sudah 10 bulan menjadi calon santriwati di Gontor Putri 2. Semakin lama calon santriwati mendapatkan pelajaran di Gontor Putri 2, biasanya semakin besar peluangnya untuk lulus menjadi santriwati di Gontor Putri.
Setelah pelaksanaan ujian masuk, calon santriwati diberi pengalaman untuk berpuasa Ramadhan di dalam Pondok selama 10 hari. Di hari terakhir diumumkan siapa yang lulus dan yang belum lulus. Bagi calon santriwati yang lulus juga diumumkan penempatannya. Sebagian besar santriwati akan belajar di Gontor Putri 1 di Matingan (Ngawi) yang letaknya di sebelah kampus Gontor Putri 2. Sebagian lagi ditempatkan di Gontor Putri 3 yang kampusnya terletak di Widodaren, Ngawi, sekitar 10-15 km dari kampus Gontor Putri 2. Sebagian lainnya akan ditempatkan di Gontor Putri 5 yang berlokasi di Desa Kemiri, Kandangan, Pare. Kadangkala, sebagian santriwati masih belajar di Gontor Putri 2 menunggu penempatan setelah semester pertama.
BELAJAR DI GONTOR PUTRI
Pendaftaran ulang seluruh santriwati Gontor Putri dilakukan pada bulan Syawal. Ketika mendaftar ulang, ijazah SD/MI baru diperlukan. Hal ini berarti bahwa hasil ujian akhir tidak digunakan di dalam seleksi santriwati. Setiap pendaftaran ulang ini, semua isi koper santriwati akan dibuka dan diperiksa oleh staff keamanan. Ukuran baju harus memnuhi standar Gontor Putri, buku dan foto yang boleh dibawa masuk pondok juga diseleksi.
Yang menarik dari proses pendaftaran adalah bahwa semua pelaksanaan pendaftaran ulang santriwati mapunun pendaftaran calon santriwati dilakukan oleh para santriwati Kelas 5. Tidak ada sekolah lain di Indonesia yang memberikan kepercayaan kepada para siswa Kelas 5 (Kelas 11 SMA) untuk melaksanakan pendaftaran sekolah. Di Gontor, hal ini sudah menjadi tradisi, kebiasaan dan kewajiban para santriwati. Pengalaman seperti ini membuat mereka berbeda dari lulusan sekolah lainnya.
Di dalam pondok, santriwati tinggal di sebuah kamar yang besar bersama 30 santriwati lainnya. Tempat tinggal santriwati disebut dengan istilah rayon. Setiap rayon terdiri atas sejumlah kamar. Di dalam kamar besar tersebut terdapat santriwati yang beragam tingkatan kelasnya. Misalnya, Rayon Bosnia 101 dapat dihuni oleh 8 santriwati Kelas 1, 7 santriwati Kelas 2, 5 santriwati Kelas 3, 5 santriwati Kelas 4, dan 5 santriwati kelas 5. Setiap santriwati mempunyai lemari sendiri yang diletakkan berderet di pinggir kamar.
Setiap rayon mempunyai kamar mandi dan tempat mencuci pakaian masing-masing. Lokasi kamar mandi biasanya terdapat di belakang rayon. Jika tidak ingin mengantri, santriwati harus bangun dan mandi pukul 4:00 pagi hari. Para santriwati membersihkan kamar mandi dan menguras bak mandi setiap hari Jum’at. Kebersihan rayon selalu dinilai setiap bulan untuk diberikan gelar rayon terbersih dan rayon terkotor.
Di dalam pondok terdapat sejumlah tempat makan atau dapur. Setiap santriwati hanya boleh makan di dapur ayng telah ditentukan. Menu makanan umumnya sangat sederhana, sepiring nasi dengan sepotong lauk, dan sayur. Lauk yang disediakan umumnya tahu goreng, tempe goring, lele goreng, atau ayam goreng. Menu ayam goreng biasanya hanya seminggu sekali pada hari Kamis malam.
Di Pondok Pesantren Gontor, para santriwati belajar di kelas yang relatif homogen, dari kelas B hingga kelas yang terakhir. Urutan abjad kelas menunjukkan tingkatan kemampuan santriwati. Kelas B dan C merupakan kelas yang berisi santriwati dengan kemampuan paling baik, sedangkan kelas dengan abjad paling belakang berisi santriwati yang nilainya paling rendah.
Demikian juga dengan urutan daftar santriwati (daftar absensi) di setiap kelas. Santriwati urutan pertama mempunyai nilai paling baik dii kelas tersebut, sebaliknya yang paling akhir memiliki nilai yang paling rendah. Nomor urut daftar santriwati berubah setiap semester. Kelas santriwati berubah setiap tahun. Santriwati di Kelas 2F, misalnya, dapat naik ke Kelas 3C jika nilainya sangat baik atau naik ke Kelas 3H jika nilainya kurang baik. Santriwati yang nilainya sangat baik mendapat kesempatan untuk lompat kelas, bisanya sanriwati di daftar urutan atas dari kelas B. Dengan pola penempatan kelas yang berjenjang ini, santriwati dapat terpacu untuk terus belajar dan berprestasi.
Sebaliknya siswa yang kehilangan motivasi belajar akan mendapat ‘hukuman’ yaitu mendapat kelas dengan abjad di bawahnya, atau ke nomor urut daftar santriwati di bawahnya. Tidaklah mengherankan di Gontor Putri jika ada satu kelas yang 100% tidak naik, karena kelas terbawah dihuni oleh santriwati yang umumnya kurang semangat belajar. Jika ada santriwati yang dua tahun berturut-turut tidak naik kelas, maka ia akan diberi surat pindah sekolah, atau dikeluarkan dari pondok.
Pengalaman saya dengan anak pertama, JCUB, ia masuk di Kelas F1 ketika masih sebagai calon santriwati di Gontor Putri 2. Setelah ujian masuk, ia mendapat Kelas 1C di Gontor Putri 1. Pada tahun pertama, JCUB mendapatkan nilai sangat baik (rata-rata >8.30) sehingga ia naik ke Kelas 2B dengan nomor urut 5. Setelah dua minggu belajar di Kelas 2B, ia mendapat tawaran untuk lompat kelas. Dengan ragu-ragu iapun menerima tawaran tersebut sehingga ia kemudian belajar di Kelas 3D, ketika teman seangkatannya masih belajar di Kelas 2.
Dalam urusan nilai atau hasil belajar, Pondok Pesantren Gontor tidak pernah kompromi atau melakukan manipulasi. Nilai yang diberikan oleh para ustadzah dari hasil ujian adalah nilai yang tertulis pada buku raport. Nilai ulangan harian tidak menentukan nilai raport. Dengan cara ini santriwati boleh mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sebanyak yang mereka inginkan asalkan dapat memperoleh nilai baik pada hasil ujian semesternya. Di dalam raport terdapat lebih dari 30 buah nilai yang diberikan sebagai prestasi belajar santriwati.
Jangan dibayangkan ujian di Gontor sama dengan ujian di sekolah lainnya. Beberapa mata ujian dilakukan secara unik. Seorang santriwati harus sendirian menghadapi 3-5 orang ustadzah dalam ujian hafalan. Ini hanya mirip dengan ujian skripsi sarjana, sama sekali tidak mirip dengan ujian SMP atau SMA. Dengan pengalaman ini santriwati Gontor Putri menjadi remaja yang berbeda dari siswa sekolah lainnya.
Kegiatan ekstrakurikuler di Pondok Pesantren Gontor sangat banyak. Kegiatan Pramuka merupakan kegiatan unggulan. Pramuka santriwati Gontor Putri dan Gontor Putra selalu menjuarai kegiatan Jambore Pramuka Internasional. Di dalam setiap jamboree internasional, Indonesia diwakili oleh dua kontingen, yaitu Kontingen Republik Indonesia dan Kontingen Gontor. Karena para pramuka dari Gontor sudah sangat fasih berbahasa Inggris dan Arab, dan mereka sangat sering berpidato di pondok, dan mereka juga sangat terbiasa bertemu dengan bermacam-macam tipe remaja, maka tidak mengherankan bahwa pramuka dari Gontor selalu menjadi yang terbaik.
Pelajaran unik lain yang diberikan oleh Pondok Pesantren Gontor Putri adalah berpidato. Setiap santriwati wajib berpidato di hadapan teman-temannya sejak Kelas 1, dalam bahasa Arab atau Inggris. Santriwati menyusun sendiri naskah pidatonya, kemudian dikonsultasikan dengan ustadzah pembinanya, sebelum dibacakan dalam pidatonya. Kedua anak saya tiak tahu berapa sering dia harus berpidato. Hal ini saya anggap menunjukkan bahwa ia sudah berpidato berkali-kali, mungkin sebulan sekali.
KESULITAN BELAJAR DI GONTOR
Kedua anak saya adalah alumni sekolah dasar (SD) negeri, yang pelajaran agamanya sedikit. Mereka juga hanya mendapat tambahan belajar membaca al-Qur’an di masjid. Dengan bekal ilmu agama yang minim tersebut keduanya dapat menduduki Kelas B. Dari pengalaman ini saya menyimpulkan bahwa jangan berkecil hati memasukkan anak lulusan SD ke pondok pesantren. Selama anak mempunyai motivasi belajar, mereka tidak kalah dari anak-anak lulusan madrasah ibtidaiyah. Karena itu, saya tidak memasukkan pelajaran di pondok sebagai salah satu kesulitan belajar di Gontor.
Kesulitan pertama yang dialami oleh anak saya adalah kurang tidur. Dengan beban pelajaran yang banyak, anak saya hanya tidur kurang dari 5 jam sehari. Hal ini membuat berat badan anak saya selalu turun ketika masuk ke dalam pondok. Saya melihat banyak juga santriwati yang berat badannya bertambah ketika di dalam pondok. Kesulitan anak saya dapat dianggap sebagai kasus dari anak yang lebih suka belajar daripada membeli jajan.
Kesulitan kedua adalah seringnya barang pribadi hilang. Setiap santriwati sudah mempunyai perlengkapan mandi sendiri. Tetapi justru perlengapan mandi ini yang sering hilang pada anak saya. Kerudung juga sering hilang ketika dijemur. Di antara barang yang paling sering hilang adalah sandal. Setiap santriwati sudah mempunyai tas untuk menyimpan sandal, tetapi seringkali mereka tidak menggunakannya dan kehilangan sandalnya.
Kesulitan ketiga adalah masa belajar 6 tahun ditambah pengabdian 1 tahun. Anak kita akan kelebihan masa belajar 1 tahun dibandingkan dengan belajar di sekolah lain. Tetapi kelebihan masa belajar bukan berarti anak kita kehilangan waktu. Kelebihan masa belajar berarti kelebihan ilmu dan pengalaman yang diperoleh oleh anak kita.
Kesulitan keempat adalah jika santriwati lompat kelas, maka ia harus menghadapi tidak hanya masalah akademik tetapi juga masalah sosial psikhologis. Anak saya, JCUB, yang lompat ke Kelas 3 tidak pernah mengikuti pelajaran di Kelas 2. Untuk belajar mandiri pelajaran Kelas 2, ia tidak mempunyai waktu karena beban pelajaran di Kelas 3 sudah banyak. Di dalam Kelas 3, ia juga merasa tidak mempunyai teman karena santriwati lebih dekat dengan teman seangkatannya. Di Kelas 3, JCUB dianggap sebagai adik kelas oleh teman sekelasnya, sehingga ia merasa sendirian.
KEUNGGULAN PONDOK PESANTREN GONTOR
Santriwati terlatih untuk hidup bersama teman-teman yang baru dikenalnya. Setiap semester mereka berganti teman di kamar, yang berarti juga berganti teman makan dan tidur. Latihan ini merupakan bekal bagi santriwati untuk hidup di lingkungan yang sulit diprediksi di masyarakat.
Santriwati terlatih untuk berakhlak baik. Di dalam Pondok Pesantren Gontor, kejujuran dan keadilan dihargai dan diteladankan. Tidak ada perbedaan perlakuan antara anak ustadz, anak menteri, anak pejabat tinggi, anak saudagar kaya, dengan anak petani atau buruh yang miskin. Semua diperlakukan persis sama oleh para ustadzah. Jika ada ustadzah yang sulit memperlakukan seorang anak secara berbeda, maka anak tersebut akan dipindahkan ke kampus Gontor yang lain.
Santriwati terlatih untuk berdisiplin. Setiap perilaku yang buruk di dalam pondok mendapat hukuman. Hukuman tersebut ddapat berupa kewajiban menghafal hadist atau surat al-Quran atau suatu pelajaran tertentu, dijemur, atau diberi jilbab warna tertentu (yang memalukan penggunanya). Disamping menjalani hukuman tersebut, pelanggar aturan juga diwajibkan memberikan nama dua pelanggar lainnya. Dengan demikian terjadi pengawasan terhadap setiap santiwati baik oleh seniornya (Kelas 5) maupun oleh santriwati yang sedang menjalani hukuman.
Santriwati terlatih untuk berbahasa Inggris dan Arab. Santriwati hanya boleh berbahasa Indonesia atau bahasa local ketika berbicara di telpon (wartel). Dengan bekal bahasa asing yang kuat, lebih 75% beasiswa yang disediakan oleh Universitas al-Azhar, Kairo, diberikan kepada alumni Pondok Pesantren Gontor.
Santriwati terlatih untuk mandiri, hidup sederhana, dan melakukan pekerjaan rumah. Hidup di Gontor Putri adalah hidup yang sederhana. Tidur di alas yang sederhana, makan makanan sederhana, mencuci pakaian sendiri, menyetrika pakaian dengan setrika arang. Tidak ada televisi, hand-phone, atau tape recorder di dalam pondok, kecuali yang bersisikan materi pendidikan. Semua santriwati melakukan tugas membersihkan kamar, kamar mandi, dan halaman pondok.
Santriwati terlatih untuk berbicara di depan umum. Kewajiban berpidato merupakan latihan yang rutin. Di pondok juga sering hadir para tamu dari luar negeri (Duta Besar, Rektor atau Menteri Pendidikan negara-negara Islam) yang memberikan ceramah umum kepada para santriwati. Di dalam pondok juga sering diadakan seminar dan latihan menulis.
Santriwati terlatih untuk berorganisasi. Di dalam pondok terdapat banyak sekali organisasi santriwati, misalnya Pramuka, klub olahraga, klub kesenian, klub bela diri, dan sebagainya. Santriwati juga secara bergilir menjadi ketua kelas, pengajian atau ronda malam. Santriwati Kelas 5 mempunyai tanggungjawab untuk mendisiplinkan santriwati adik kelasnya dan melaksanakan pendaftaran.
Santriwati terlatih untuk mengajarkan ilmu yang dimilikinya. Kurikulum Gontor memang untuk mempersiapkan santriwati sebagai guru muslimah, baik formal maupun non-formal. Semua santriwati harus mengajar setelah lulus (selesai Kelas 6) sebagai pengabdian masyarakat, selama setahun.
Biaya pendidikan relatif murah dengan banyaknya ilmu dan pengalaman yang disediakan oleh pondok. Setiap bulan biaya makan, kamar, dan pendidikan sekitar Rp. 350 ribu; belum termasuk pembelian buku, asuransi kesehatan, dan administrasi. Dengan belajar di pondok, kita tidak memikirkan lagi antar-jemput anak ke sekolah dan les (kursus), dan tidak ada biaya les tambahan. Setiap tahun kita membayar uang sumbangan gedung baru pondok, yang saya anggap sebagai amal jariah. Belajar di pondok juga mengurangi resiko anak kita mendapat kecelakaan sepeda motor di jalan.
KENDARAAN UMUM MENUJU GONTOR
Kampus Gontor 2 (Putra) terdapat di Kota Ponorogo. Di terminal Bungurasih, Surabaya, banyak bis jurusan Ponorogo-Surabaya. Anda dapat memilih bis ekonomi, bis ekonomi ber-AC, atau bis PATAS JATIM. Bis PATAS mempunyai fasilitas AC dan kadangkala menyediakan makan, sehingga tarifnya lebih mahal (2x tarif ekonomi). Di terminal bis Lebakbulus, Jakarta, juga banyak tersedia bis malam (Bisnis, Excecutive) jurusan Jakarta-Ponorogo. Anda tinggal mencari tiket bis tersebut dan turun di terimal bis Ponorogo. Setelah sampai di terminal bis Ponorogo anda dapat dengan mudah mendapatkan mobil angkutan yang membawa anda ke Pondok Gontor 2.
Kampus Gontor Putri 2 terdapat di Desa Sambirejo, Mantingan, Ngawi. Kampus tersebut dilewati oleh semua bis jurusan Solo-Surabaya, Yogyakarta-Solo-Surabaya. Banyak pilihan bis yang melewati rute ini, baik yang ekonomi biasa, ekonomi AC, maupun bis PATAS. Dari terminal bis Bungurasih (Purabaya), Surabaya, anda tinggal memilih bis yang anda sukai dan turun di depan kampus Gontor Putri 2. Dari terminal bis Lebakbulus, bis malam jurusan Jakarta-Madiun, atau Jakarta-Ponorogo juga melewati kampus Gontor Putri 2. Semua kondektur bis sudah tahu dimana anda mau turun jika anda menyebutkan Pondok Gontor Putri 2. Di jalan dekat pondok juga terdapat tanda “Gontor Putri 2” dengan ukuran sangat besar berwarna hijau.
Di sekitar pondok banyak tempat bermalam. Sebagian rumah di depan pondok menyediakan kamar untuk disewakan, dengan harga yang murah. Anda dapat mencari informasi tentang kamar yang disewakan pada warung makan di depan pondok. Anda juga dapat menginap di Balai Penerimaan Tamu (Bapenta) di setiap pondok secara gratis. Hanya saja kadang kita tidak mendapatkan kasur jika tamu sedang ramai. Di sebelah Pondok Gontor Putri 2, yaitu di kompleks Pondok Gontor Putri 1, tersedia Wisma La Tansa yang menyediakan kamar penginapan dan sarapannya. Tarif kamar di sini juga relatif murah, tergantung fasilitas kamar. Pada tahun 2009, kamar yang paling murah mempunyai tarif Rp 40 ribu/malam.
Bogor, 17 September 2010

1 komentar:

agus waluya mengatakan...

penjelasan yang komplit, mudah2an bisa semakin membuka mata para orangtua tentang pentingnya pendidikan agama dan lembaga pendidikan agama yang berkualitas, syukran